Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
Abdullah bin Muhammad As-Salafi  
  Kunjungan Buku : 63103  
Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Mukaddimah
     Sejarah Lahirnya Rafidhah
     Sebab Penamaan Syi’ah dengan Rafidhah
     Berbagai Macam Sekte Rafidhah
     Aqidah Bada’ yang Diyakini oleh Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah
     Aqidah Rafidhahtentang al-Qur'an yang Dijaga Keotentikannya oleh Allah
     Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah
     Sisi Kesamaan Antara Yahudi dan Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Imam-imam Mereka
     Aqidah Raj’ah bagi Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Taqiyyah
     Aqidah Rafidhah tentang ath-Thinah
     Aqidah Rafidhah tentang Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Nikah Mut’ah dan Keutamaannya
     Aqidah Rafidhah tentang Kota Najf dan Karbala serta Keutamaan Menziarahinya
     Sisi Perbedaan Antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Hari ‘Asyura dan Keutamaannya Menurut Mereka
     Aqidah Rafidhah tentang Bai’at
     Hukum Pendekatan Antara Ahlus Sunnah yang Mengesakan Allah dengan Syi’ah yang Menyekutukan-Nya
     Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah
     Surat al-Wilayah yang Diakui Rafidhah Termasuk Satu Surat dalam al-Qur’an
     Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah
     Doa Dua Patung Quraisy
     Penutup
     Referensi Penting untuk Membantah Aqidah Syi’ah
     Buku-buku Kontemporer
     Beberapa Situs Rujukan untuk Membantah Syi'ah
     Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah

Inilah kitab dari Allah yang Mahaluhur lagi Maha bijaksana kepada Muhammad Nabi-Nya, cahaya-Nya, utusan-Nya, pintu gerbang-Nya dan petunjuk kepada-Nya, yang turun melalui perantaraan malaikat Jibril dari sisi Rabb semesta alam.

“Agungkanlah wahai Muhammad nama-namaKu, syukurilah nikmat-nikmatKu dan janganlah kau meng-ingkarinya.

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan ke-cuali Aku, barangsiapa mengharap selain keutamaan-Ku (karunia-Ku) atau takut selain keadilan-Ku, maka akan Aku siksa dengan siksaan yang belum pernah Aku berikan kepada seseorang di jagad raya ini, maka kepada Akulah engkau menyembah, kepada Akulah engkau bertawakal.

Sesungguhnya Aku belum pernah mengutus se-orang nabi kemudian Kusempurnakan hari-harinya, dan habis masanya kecuali Aku jadikan washi untuk-nya (seorang yang diwasiati untuk melanjutkan kekha-lifahan).

Aku mengutamakanmu di atas Nabi-Nabi yang lain dan mengutamakan washi-mu melebihi washi-washi yang lainnya. Memuliakanmu dengan kedua ke-kasihmu, kedua cucumu, Hasan dan Husain, maka Aku jadikan Hasan sebagai sumber ilmu-Ku, setelah habis masa bapaknya. Aku jadikan Husain sebagai gu-dang penampung wahyu-Ku dan Aku muliakan dia de-ngan kesyahidan, dan Kututup untuknya dengan keba-hagiaan. Ia sebaik dan yang paling utama di antara orang yang mati syahid, dan yang lebih tinggi derajat-nya. Aku jadikan kalimat–Ku (wahyu-Ku) bersamanya dan hujjah–Ku yang sempurna selalu padanya. Dengan sebab keluarganya Aku memberi pahala dan menyik-sa. Yang pertama Ali, tuannya para hamba dan hiasan kekasih-Ku, anaknya yang bernama Muhammad al-Baqir sebagai gudang ilmu-Ku, dan sumber hikmah-Ku, sungguh akan binasa orang yang meragukan Ja’far, orang yang menolaknya seperti menolak-Ku.

Sudah menjadi keputusan dari-Ku, sungguh Aku

muliakan tempat kembali Ja’far, akan Kubahagiakan dengan pengikutnya, penolongnya dan kekasihnya.

Musa yang datang setelahnya didatangkan untuk-nya fitnah besar yang membabi buta, sungguh benang wahyu–Ku tak terputus, dan hujjah-Ku tidak samar, dan semua kekasih–Ku akan diberikan minuman dengan gelas yang penuh.

Barangsiapa yang ingkar kepada salah satu dari mereka, maka sungguh telah ingkar kepada nikmat-Ku. Dan barangsiapa yang merubah satu ayat dari ki-tab-Ku, maka sungguh ia telah berani mengada-ada pada-Ku. Celakalah orang-orang yang berani meng-ada-ada serta ingkar, di waktu penghabisan masa Musa hamba-Ku, kekasih-Ku, dalam masa Ali kekasih-Ku dan penolong-Ku, ia (...)[1] diuji dengan kenabiannya sehingga dibunuhlah dia oleh seorang yang sombong, dan dikuburkan di Madinah, kota yang dibangun oleh hamba yang shalih, di samping seburuk-buruknya makhlukku.

Sungguh sudah menjadi keputusan dari-Ku, bah-wa akan Aku berikan kepadanya (Ali) Muhammad anaknya sebagai penerus kekhalifahan sesudahnya, dan pewaris ilmunya. Dia (Muhammad) sumber ilmu-Ku, tempat rahasia-Ku, sebagai bukti atau saksi atas perbuatan hamba-Ku dan tidak beriman seorang ham-ba kepadanya melainkan Aku jadikan surga sebagai tempat kembalinya. Aku berikan kepadanya kemam-puan untuk memberi syafaat kepada 70 orang dari ke-luarganya, di mana sebelumnya mereka tergolong ahli neraka. Kemudian Aku tutup untuk anaknya bernama Ali dengan kebahagiaan. Dia (Ali) kekasih-Ku, peno-long-Ku, saksi atas perbuatan hamba sahaya, dan ke-percayaan-Ku untuk menerima dan menjaga wahyu-Ku. Aku lahirkan darinya al-Hasan sebagai da’i yang mengajak kepada jalan-Ku, sebagai gudang ilmu-Ku, setelah itu Kusempurnakan dengan anaknya (…)[2] sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam, pada-nya kesempurnaan Nabi Musa, kebahagiaan Nabi Isa, dan kesabaran Nabi Ayub.

Para kekasih-Ku hidup dihina pada masanya, ber-jalan dengan merundukkan kepalanya, sebagaimana merunduknya pasukan Turki dan Dailam, mereka di-bunuh dan dibakar. Hidup serba dalam ketakutan, bu-mi merah terwarnai dengan darahnya, bencana dan musibah tersebar di mana-mana, isak tangis nampak pada para wanitanya. Ketahuilah, mereka benar-benar kekasih-Ku.

Dengan sebab mereka Aku mengusir setiap fitnah besar, dengan sebab mereka pula Aku hilangkan ben-cana, menolak belenggu-belenggu yang menjerat. Ba-gi mereka shalawat dan rahmat dari tuhannya dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah.”

Abdurrahman bin Salim berkata, Abu Bashir ber-kata: “Jika Anda tidak pernah mendengar dalam ke-hidupanmu kecuali ini (lauh ini) maka itu sudah cukup bagimu. Karena itu, simpanlah dan rahasiakanlah lauh ini kecuali kepada orang yang berhak.”[3]

 

Ñc&dÐ

 

 

 



[1]       Kalimat yang tidak jelas, sehingga kami tidak bisa meneliti keabsahannya.

[2]       Kalimat yang tidak jelas, sehingga kami tidak bisa meneliti keabsahannya.

[3]       Al-Kafi, karya al-Kulaini, (1/527), al-Wafi, al-Faidh al-Kasyani (1/2/72), Ikmuludin, karangan Ibnu Babawaih al-Qummi, hal. 301-304, I’lamul Wara, karya Abu Ali ath-Tahabrisi, (152).

*) Rafidhah mengatakan: “Lauh Fathimah ini diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Fathimah, setelah Nabi r wafat. Ketika Jibril menyampaikan wahyu kepada Fathimah, Ali bin Abi Thalib bersembunyi di balik tabir, sambil menulis apa yang disampaikan Jibril kepada Fathimah. Demikian yang disebutkan al-Kulaini dalam al-Kafi (1/185-186).

Ini adalah kedustaan yang besar, mengada-ada tanpa bukti, kare-na wahyu setelah Nabi wafat sudah terputus, tidak turun lagi. Meskipun sudah jelas bahwa lauh Fathimah ini dusta, bohong kebenarannya, namun orang-orang Syi’ah memposisikan lauh ini seperti al-Quranul Karim bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah.


 

 
Retour a la page principale
قسم الأخـبـار :: الدفاع عن السنة