Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
Abdullah bin Muhammad As-Salafi  
  Kunjungan Buku : 62629  
Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Mukaddimah
     Sejarah Lahirnya Rafidhah
     Sebab Penamaan Syi’ah dengan Rafidhah
     Berbagai Macam Sekte Rafidhah
     Aqidah Bada’ yang Diyakini oleh Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah
     Aqidah Rafidhahtentang al-Qur'an yang Dijaga Keotentikannya oleh Allah
     Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah
     Sisi Kesamaan Antara Yahudi dan Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Imam-imam Mereka
     Aqidah Raj’ah bagi Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Taqiyyah
     Aqidah Rafidhah tentang ath-Thinah
     Aqidah Rafidhah tentang Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Nikah Mut’ah dan Keutamaannya
     Aqidah Rafidhah tentang Kota Najf dan Karbala serta Keutamaan Menziarahinya
     Sisi Perbedaan Antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Hari ‘Asyura dan Keutamaannya Menurut Mereka
     Aqidah Rafidhah tentang Bai’at
     Hukum Pendekatan Antara Ahlus Sunnah yang Mengesakan Allah dengan Syi’ah yang Menyekutukan-Nya
     Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah
     Surat al-Wilayah yang Diakui Rafidhah Termasuk Satu Surat dalam al-Qur’an
     Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah
     Doa Dua Patung Quraisy
     Penutup
     Referensi Penting untuk Membantah Aqidah Syi’ah
     Buku-buku Kontemporer
     Beberapa Situs Rujukan untuk Membantah Syi'ah
     Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah me-limpahkan rahmat yang luas kepadanya—berkata: “Para ulama sepakat bahwa Rafidhah adalah salah satu sekte paling besar dustanya, kedustaan mereka su-dah dikenal sejak lama. Karena itu, para ulama mem-berikan cap dengan kelompok yang banyak dustanya.”

Asyhab bin Abdul Aziz berkata, Imam Malik v ditanya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab: “Ja-ngan berbicara dengannya, dan Anda jangan meriwa-yatkan hadits darinya, sesungguhnya mereka para pendusta.”

Masih dari Imam Malik, “Orang yang mencaci pa-ra sahabat Rasulullah r, tidak memiliki bagian dalam Islam (tidak tergolong orang Islam).”

Ibnu Katsir v memberikan penafsiran tentang firman Allah I di bawah ini:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٢٩﴾  الفتح

 

 “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras ter-hadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang se-sama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tanpak pada muka mereka dari be-kas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu se-perti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, ma-ka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia, dan tegak lurus diatas po-koknya; tanaman itu menyenangkan hati pena-nam-penanamnya, karena Allah hendak men-jengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuat-an orang-orang Mukmin).” (Al-Fath: 29)

Imam Malik v mengambil kesimpulan dari ayat ini tentang kafirnya orang-orang Rafidhah yang mem-benci para sahabat Nabi r, karena mereka benci ke-pada para sahabat, dan orang yang benci kepada me-reka adalah kafir berdasarkan ayat ini.

Imam al-Qurthubi berkata, “Sungguh Imam Malik telah berpendapat dengan sebaik-baik pendapat, dan penafsirannya benar, sebab orang yang mencaci salah satu dari sahabat Nabi atau mencela riwayatnya ber-arti telah menolak Allah I, dan membatalkan syari'at Islam.”[1]

Abu Hatim mengatakan bahwa Harmalah berce-rita kepadaku, dia mendengar Imam asy-Syafi'i berka-ta: “Saya belum pernah melihat orang paling dusta ke-saksiannya daripada Rafidhah.”

Muammal bin Ahab mengatakan bahwa dia men-dengar Yazid bin Harun berkata: “Bisa diterima riwa-yat seorang pelaku bid'ah, selama tidak mengajak ke-pada kebid'ahannya, kecuali Rafidhah, selamanya ti-dak bisa diterima riwayatnya dikarenakan mereka pendusta.”

Dari Muhammad bin Said al-Ashbahani, dia men-dengar Syuraik berkata, “Ambillah ilmu dari siapa saja yang Anda jumpai kecuali dari Rafidhah, karena me-reka membuat hadits sendiri dan menjadikannya seba-gai agama.” Yang dimaksud dengan Syuraik di sini adalah Syuraik bin Abdillah, hakim kota Kufah.

Muawiyah t berkata, dia mendengar al-A'masy berkata: “Saya menjumpai segolongan manusia yang dikenal dengan “Kaum Pendusta” mereka ini adalah teman-teman al-Mughirah bin Said seorang pendusta Rafidhah, sebagaimana dikatakan adz-Dzahabi.”[2]

Ibnu Taimiyah v memberikan komentar terha-dap ucapan ulama salaf, ia mengatakan, “Pokok-pokok dasar dari bid'ah orang-orang Rafidhah adalah keku-furan mereka yang tersembunyi dan penyekutuan ke-pada Allah. Kedustaan adalah hal biasa bagi mereka, bahkan mereka sendiri mengakuinya, dengan menga-takan bahwa agama kami adalah taqiyyah yaitu ucap-an seseorang dengan lisannya yang bertolak-belakang dengan keyakinannya. Inilah kedustaan dan kemuna-fikan, mereka dalam hal ini seperti ucapan pepatah, “Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri.”[3]

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal v berkata:

”Saya pernah bertanya kepada bapak saya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab: “Yaitu mereka yang mencaci dan mencela Abu Bakar dan Umar.”

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang Abu Bakar dan Umar, beliau menjawab: “Berdoalah agar mereka berdua dirahmati oleh Allah, dan berlepas dirilah dari orang-orang yang membenci mereka.”[4]

Diriwayatkan oleh al-Khallal dari Abu Bakar al-Marwazi, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah y, beliau menjawab: “Orang itu tidak berada dalam agama Islam.”[5]

Al-Khallal juga berkata: “Bercerita kepada saya Harb bin Ismail al-Kirmani dengan mengatakan, bahwa Musa bin Harun bin Ziyad berkata: “Saya mendengar seseorang bertanya kepada al-Firyabi tentang orang yang mencaci dan mencela Abu Bakar, maka ia men-jawab: “Orang seperti itu adalah kafir”, kemudian dia bertanya lagi: “Apakah dia dishalatkan jika mening-gal?” Beliau menjawab: “Tidak!”[6]

Ibnu Hazm v berkata tentang Rafidhah ketika mendebat kaum Nashrani yang membawa referensi buku-buku Rafidhah agar mereka bisa mendebat be-liau: “Sesungguhnya orang-orang Rafidhah bukan dari golongan kaum Muslimin, perkataan mereka tidak bisa menjadi rujukan agama, mereka hanyalah kelompok yang muncul pertama kali dua puluh lima tahun sete-lah wafatnya Nabi r. Berawal dari sambutan terhadap seseorang yang telah dihinakan Allah yang mengajak semua orang yang ingin merusak Islam. Sebuah kelom-pok yang mempunyai metode seperti kaum Yahudi dan Nashrani dalam mendustakan agama dan dalam ke-kufuran.”[7]

Abu Zur'ah ar-Razi berkata: “Jika kamu melihat se-seorang mendiskreditkan salah seorang sahabat Nabi ketahuilah dia adalah zindiq (kafir dan merusak Islam dari dalam).”

Dewan Tetap untuk Fatwa di Saudi Arabia pernah ditanya dengan pertanyaan, bahwa penanya dan orang-orang yang bersamanya berdomisili di belahan utara Arab, berdekatan dengan Iraq. Di sana terdapat suatu jamaah penganut madzhab Ja'fariyyah, sebagi-an dari mereka tidak bersedia makan sembelihan ja-maah ini dan sebagian yang lain bersedia. Mereka ber-tanya: “Apakah halal bagi kami makan sembelihan mereka, padahal diketahui mereka berdoa kepada (me-minta) Ali, Hasan, Husain dan semua pembesar mere-ka dalam berbagai kesempatan”?

Dewan yang saat itu dipimpin oleh yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Abdur Razak Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu'ud—semoga Allah memberi-kan pahala kepada mereka- menjawab:

“Segala puji hanya milik Allah saja, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya, berikut keluarga dan semua sahabat, wa ba'du:

Jika masalahnya seperti yang dikemukakan oleh penanya bahwa kelompok Ja'fariyyah yang ada di se-kitarnya berdoa kepada Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain serta para pembesar mereka, maka mereka ini tergolong orang-orang Musyrik, telah keluar dari agama Islam–semoga Allah melindungi kita. Tidak boleh ma-kan hewan sembelihan mereka karena itu adalah bang-kai meskipun saat menyembelih mereka menyebut na-ma Allah.”[8]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin—se-moga Allah menjaganya dan melindunginya dari se-mua keburukan—pernah ditanya: “Syaikh yang mulia, di daerah kami terdapat orang Rafidhah yang bekerja sebagai penyembelih hewan dan banyak dari orang Ahlus Sunnah yang mendatanginya untuk menyembe-lihkan hewan sembelihannya. Di sana terdapat juga se-bagian rumah makan yang bekerja sama dengan tu-kang sembelih Rafidhah ini. Bagaimana hukumnya be-kerja sama dengan orang Rafidhah ini dan yang semi-salnya, dan apa hukum sembelihannya? Halal atau haram? Mohon diberikan fatwa. Semoga Allah mem-berikan balasan kebaikan kepada Syaikh.”

Beliau menjawab: “Wa ‘alaikum Salam wa Rah-matullahi wa Barakatuh. Tidak sah sembelihan Rafi-dhah dan tidak halal makan sembelihannya, dikarena-kan kebanyakan mereka menyekutukan Allah, dengan selalu berdoa kepada Ali bin Abi Thalib baik di saat sempit atau lapang, di Arafah, pada saat thawaf dan sa'i, mereka bermohon kepadanya dan anak-anaknya serta imam-imam mereka, seperti sering kita dengar. Ini merupakan syirik akbar dan perbuatan murtad, bahkan mereka berhak dibunuh atas perbuatan mereka.

Sebagaimana mereka juga berlebih-lebihan dalam memuji Ali bin Abi Thalib t, sampai mereka mensi-fati beliau dengan sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah I, seperti sering kita dengar di Arafah. Dengan perbuatan ini mereka dianggap murtad dan keluar dari agama Islam, disebabkan telah menjadikan Ali se-bagai tuhan, pencipta, yang menjalankan roda perpu-taran alam, mengetahui yang ghaib, bisa memberikan manfaat maupun marabahaya dan kesyirikan lain yang sejenis ini. Mereka juga mencela al-Qur'anul Karim dan menuduh para sahabat Nabi telah merubah dan mem-buang banyak ayat yang berkenaan dengan Ahlul Bait dan musuh-musuhnya. Tidak bersedia mengikutinya (al-Qur'an) dan tidak mau menjadikannya sebagai dalil.

Di samping itu, mereka mencaci para tokoh saha-bat Nabi seperti ketiga Khulafaur Rasyidin dan sahabat lain yang mereka ini tergolong sebagai sepuluh sahabat yang dijanjikan Allah dengan surga, para istri Nabi r dan para sahabat lain yang masyhur seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan yang lainnya. Mereka juga tidak menerima hadits-hadits sahabat tadi karena telah dianggap kafir. Hadits-hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim juga tidak mereka amalkan kecuali riwayat yang berasal dari Ahlul bait.

Mereka juga berpegangan dengan hadits-hadits palsu dan mengutarakan pendapat mereka tanpa ber-dasar kepada suatu dalil. Ditambah lagi dengan kemu-nafikan mereka, mengatakan sesuatu dengan lisannya yang berbeda dengan apa yang di hatinya. Apa yang ada dalam hati mereka disembunyikan dan bersembo-yan: “Siapa yang tidak melakukan taqiyyah maka ia tidak beragama.”

Karena itu, jangan sampai kamu terima pengaku-an sikap persaudaraan dan cinta mereka dengan dasar agama… kemunafikan adalah agama mereka, semoga Allah menjaga kita dari keburukan mereka.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepa-da Muhammad r, keluarga dan para sahabatnya.”[9]

 

 

 

 

Ñc&dÐ

 

 



[1]       Dr. Nashir al-Qiffari, Ushulu Madzahibis Syi'atil Itsna 'Asyariyyah, 3/1250

[2]       Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/59-60

[3]       Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/68

[4]       Abdul Ilah bin Sulaiman al-Ahmadi, al-Masaailu war Rasaailul Marwiyyah 'anil Imami Ahmadabni Hanbal (Masalah-masalah dan Risalah yang Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal), 2/357.

[5]       Al-Khallal, as-Sunnah, 3/493, ini merupakan pernyataan yang tegas dari Imam Ahmad tentang kekafiran Rafidhah.

[6]       Al-Khallal, as-Sunnah, 3/499

[7]       Ibnu Hazm, al-Fashlu fil Milali wan Nihal, 2/78

[8]       Fatawal Lajnatid Daa'imah Lil Ifta', jilid 2, hal: 264

[9]       Fatwa ini disampaikan beliau ketika diajukan pertanyaan tentang hukum berinteraksi dengan orang Rafidhah pada tahun 1414 H. Saya ingin meluruskan apa yang santer dibicarakan orang bahwa Syaikh Abdullah al-Jibrin–semoga Allah menjaganya- adalah satu-satunya ulama yang menganggap kaum Rafidhah kafir. Se-benarnya para imam dari salaf (para ulama periode awal) sampai khalaf (para ulama setelah periode salaf) juga mengkafirkan sekte ini. Ini mereka sampaikan untuk menegakkan hujjah dan untuk menyadarkan mereka dari ketidaktahuan dalam masalah ini.


 

 
Retour a la page principale
قسم الأخـبـار :: الدفاع عن السنة