Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
Abdullah bin Muhammad As-Salafi  
  Kunjungan Buku : 64111  
Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Mukaddimah
     Sejarah Lahirnya Rafidhah
     Sebab Penamaan Syi’ah dengan Rafidhah
     Berbagai Macam Sekte Rafidhah
     Aqidah Bada’ yang Diyakini oleh Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah
     Aqidah Rafidhahtentang al-Qur'an yang Dijaga Keotentikannya oleh Allah
     Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah
     Sisi Kesamaan Antara Yahudi dan Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Imam-imam Mereka
     Aqidah Raj’ah bagi Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Taqiyyah
     Aqidah Rafidhah tentang ath-Thinah
     Aqidah Rafidhah tentang Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Nikah Mut’ah dan Keutamaannya
     Aqidah Rafidhah tentang Kota Najf dan Karbala serta Keutamaan Menziarahinya
     Sisi Perbedaan Antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Hari ‘Asyura dan Keutamaannya Menurut Mereka
     Aqidah Rafidhah tentang Bai’at
     Hukum Pendekatan Antara Ahlus Sunnah yang Mengesakan Allah dengan Syi’ah yang Menyekutukan-Nya
     Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah
     Surat al-Wilayah yang Diakui Rafidhah Termasuk Satu Surat dalam al-Qur’an
     Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah
     Doa Dua Patung Quraisy
     Penutup
     Referensi Penting untuk Membantah Aqidah Syi’ah
     Buku-buku Kontemporer
     Beberapa Situs Rujukan untuk Membantah Syi'ah
     Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah

Aqidah Rafidhah berpijak di atas prinsip mencaci, mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi r.

Al-Kulaini menyebutkan dalam bukunya Furu'ul Kaafi yang diriwayatkan dari Ja'far alaihissalam: “Se-mua orang murtad (keluar dari Islam) sepeninggal Rasulullah r, kecuali tiga orang,” kemudian saya ber-tanya kepadanya: “Siapakah ketiga sahabat ini? Ia menjawab: “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.”[1]

Al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar mengisah-kan bahwa seorang budak Ali bin Husain berkata: “Aku pernah bersamanya saat dia menyendiri, aku katakan: “Aku punya hak yang harus kamu penuhi, kecuali jika kau beritahukan kepadaku tentang dua orang ini: ten-tang Abu Bakar dan Umar.” Dia menjawab: “Kedua-nya kafir, dan kafir juga orang yang mencintai kedua-nya.” ”Diriwayatkan juga dari Abu Hamzah ats-Tsu-mali bahwa dia pernah bertanya kepada Ali bin Husain tentang kedua orang itu (Abu Bakar dan Umar c), maka dia menjawab: “Keduanya kafir, dan kafir juga orang yang setia kepada mereka.”[2]

Dalam Tafsir al-Qummi, saat menafsirkan firman Allah  dalam surat an-Nahl ayat 90:

 )وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ(  النحل [90]

 

“…dan Allah melarang dari perbuatan keji, ke-mungkaran dan permusuhan.”

Mereka menafsirkan: الفحشاء (perbuatan keji) ada-lah Abu Bakar, وَالْمُنْكَرِ  (kemungkaran) adalah Umar dan Ä وَالْبَغْيِ (permusuhan) adalah Utsman.[3]

Al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar mengatakan: “Riwayat yang menunjukkan kafirnya Abu Bakar dan Umar c beserta orang-orang yang sejenis dengan keduanya, pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan riwayat bid'ah mereka sangat ba-nyak jika disebutkan di satu jilid ini, atau bahkan se-andainya dalam buku berjilid-jilid. Namun apa yang kami paparkan sudah cukup bagi orang yang ingin diberi hidayah oleh Allah  ke jalan yang lurus.”[4]

Bahkan al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar me-nyebutkan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Mu'awiyah , se-muanya berada dalam peti-peti dari api neraka. Wal 'iyadzu billah.[5]

Mereka (Syi'ah) juga mengatakan dalam kitab me-reka Ihqaqul Haq karya al-Mar'asyi: “Ya Allah berikan-lah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah kedua patung Quraisy, kedua Jibt,[6] dan Thaghut-nya dan kedua anak perempuan mereka” (maksudnya: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Hafshah).[7]

Al-Majlisi dalam risalahnya yang berjudul al-'Aqa'id mengatakan: “Di antara perkara yang termasuk fundamental agama imamiyyah ini adalah menghalal-kan nikah mut'ah, haji tamattu' dan berlepas diri dari tiga orang (Abu Bakar, Umar dan Utsman), Mu'awi-yah, Yazid bin Mu'awiyah dan setiap orang yang me-merangi Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib).”[8]

Pada tanggal 10 Muharram, mereka membawa an-jing yang diberi nama Umar, kemudian mereka bera-mai-ramai memukulinya dengan tongkat dan melem-parinya dengan batu sampai mati, lalu mereka men-datangkan kambing betina yang diberi nama Aisyah, lalu mereka mulai mencabuti bulunya dan memukuli-nya dengan sepatu sampai mati.[9]

Sebagaimana juga mereka mengadakan pesta merayakan hari kematian Umar bin al-Khatthab , dan memberikan penghargaan kepada pembunuhnya: Abu Lu'lu'ah seorang Majusi dengan gelar “Pahlawan Agama.”[10] Semoga Allah I meridhai para sahabat dan Ummahatul Mukminin para istri Rasul .

Lihatlah wahai kaum Muslimin, betapa besar ke-bencian dan kotornya sekte ini yang menyimpang dari agama, dan betapa buruk serta kotornya ucapan-ucapan mereka yang dialamatkan kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi, padahal mereka di-puji oleh Allah dan Rasul-Nya, dan umat telah sepakat akan keadilan dan keutamaannya. Serta sejarah telah mencatat segala kebaikan, kepeloporan dan kesung-guhan mereka dalam menegakkan agama Islam.

 

 

 

Ñc&dÐ

 

 

 



[1]     Al-Kulaini, Furu'ul Kaafi, 115

[2]     Al-Majlisi, Biharul Anwar, juz 69, hal. 137 dan 138. Perlu diketahui bahwa sebenarnya Ali bin Husain dan semua Ahlul Bait berlepas diri dari hal ini, dan ini adalah tuduhan yang dilan-carkan orang-orang Rafidhah terhadap Ahlul Bait. Semoga Allah memerangi mereka, bagaimana bisa mereka berpaling.

[3]     Tafsir al-Qummi, 1/390

[4]     Al-Majlisi, Biharul Anwar, 30/230

[5]     Al-Majlisi, Biharul Anwar, 30/236

[6]     Jibt adalah sihir, sebutan yang digunakan untuk sihir, tukang sihir, tukang ramal, dukun, berhala dan sejenisnya (editor).

[7]     Ihqaqul Haq, 1/337. Pembaca budiman, silakan lihat doa Sha-namai Quraisy di bagian akhir buku ini.

[8]     Al Majlisi, Risalah al-'Aqaaid, 58

[9]     Ibrahim al-Jabhan – semoga Allah menjaganya-, Tabdiduzh Zhalam wa Tanbiihun Niyaam,, 27

[10]   Abbas al-Qummi, al-Kuna wal Alqaab, 2/55

 
Retour a la page principale
قسم الأخـبـار :: الدفاع عن السنة