Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
Abdullah bin Muhammad As-Salafi  
  Kunjungan Buku : 66219  
Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Inilah Kesesatan Aqidah Syi’ah
     Mukaddimah
     Sejarah Lahirnya Rafidhah
     Sebab Penamaan Syi’ah dengan Rafidhah
     Berbagai Macam Sekte Rafidhah
     Aqidah Bada’ yang Diyakini oleh Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah
     Aqidah Rafidhahtentang al-Qur'an yang Dijaga Keotentikannya oleh Allah
     Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah
     Sisi Kesamaan Antara Yahudi dan Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Imam-imam Mereka
     Aqidah Raj’ah bagi Rafidhah
     Aqidah Rafidhah tentang Taqiyyah
     Aqidah Rafidhah tentang ath-Thinah
     Aqidah Rafidhah tentang Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Nikah Mut’ah dan Keutamaannya
     Aqidah Rafidhah tentang Kota Najf dan Karbala serta Keutamaan Menziarahinya
     Sisi Perbedaan Antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah
     Aqidah Rafidhah tentang Hari ‘Asyura dan Keutamaannya Menurut Mereka
     Aqidah Rafidhah tentang Bai’at
     Hukum Pendekatan Antara Ahlus Sunnah yang Mengesakan Allah dengan Syi’ah yang Menyekutukan-Nya
     Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah
     Surat al-Wilayah yang Diakui Rafidhah Termasuk Satu Surat dalam al-Qur’an
     Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah
     Doa Dua Patung Quraisy
     Penutup
     Referensi Penting untuk Membantah Aqidah Syi’ah
     Buku-buku Kontemporer
     Beberapa Situs Rujukan untuk Membantah Syi'ah
     Sambutan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah

Rafidhah adalah sekte yang pertama kali menga-takan bahwa Allah I ber-jisim (bertubuh seperti tu-buh makhluk).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v mengatakan bahwa yang mempelopori kebohongan ini dari sekte Rafidhah adalah Hisyam bin al-Hakam,[1] Hisyam bin Salim al-Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman al-Qummi, dan Abu Ja'far al-Ahwal.[2]

Mereka ini adalah para tokoh Syi'ah Itsna 'Asyariy-yah, yang pada akhirnya mereka menjadi sekte Jahmiy-yah yang mengingkari sifat-sifat Allah I.

Sebagaimana riwayat-riwayat mereka yang men-sifati Allah dengan sifat-sifat negatif, yang mereka ku-kuhkan sebagai sifat-sifat yang kekal bagi Allah I.

Ibnu Babawaih telah meriwayatkan lebih dari tu-juh puluh riwayat yang menyatakan bahwa Allah tidak disifati dengan waktu, tempat, seperti apa, bergerak, berpindah, tidak tersifati dengan sifat-sifat yang ada pa-da jisim, tidak berupa materi, jisim dan bentuk.[3]

Tokoh-tokoh mereka tetap berpijak di atas konsep yang sesat ini, dengan meniadakan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-Qur'an dan al-Hadits.

Sebagaimana mereka juga mengingkari turunnya Allah I ke langit dunia, ditambah lagi perkataan me-reka tentang al-Qur'an bahwa ia adalah makhluk, dan mereka juga mengingkari bahwa Allah bisa dilihat di akhirat nanti.

Disebutkan dalam buku Biharul Anwar bahwa Abu Abdullah Ja'far ash-Shadiq pernah ditanya dengan sua-tu pertanyaan, apakah Allah I bisa dilihat pada Hari Kiamat? Maka ia menjawab: “Mahasuci Allah, dan Mahatinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata ti-dak bisa melihat kecuali kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu, sedangkan Allah I Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi.”[4]

Bahkan orang-orang Syi'ah mengatakan: “Jika ada seseorang menisbatkan kepada Allah sebagian si-fat, seperti sifat Allah dapat dilihat, maka orang tadi di-hukumi murtad (keluar dari agama), sebagaimana di-sinyalir oleh tokoh mereka Ja'far an-Najafi.[5]

Ketahuilah bahwa sesungguhnya melihat Allah I adalah haq, benar adanya, ditetapkan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yaitu melihat Allah tak bisa dibayang-kan dengan detail dan tak bisa diperagakan, sebagai-mana firman Allah U:

 

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ { 22 } إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ { 23 } سورة القيامة

 

 

“Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka me-lihat.” (Al-Qiyamah: 22-23)

Dalil dari as-Sunnah bahwa Allah I bisa dilihat di Hari Kiamat, yaitu hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah al-Bajali t, beliau berkata:

كُنَّا جُلُوْسًا مَعَ رَسُوْلُ اللهِ r فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ

عَشْرَ ةَ فَقَالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا كَمَا تَرَوْنَ هَذَا، لاَ تُضَامُوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ

Kami pernah duduk bersama Rasulullah r, ke-mudian beliau melihat bulan purnama pada ma-lam empat belas, maka beliau bersabda: “Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala, se-bagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak ber-susah-susah dalam melihat-Nya.”

Dan banyak lagi ayat al-Qur'an dan hadits Nabi yang membicarakan tentang hal ini yang tidak mung-kin kita ungkap di sini.[6]

 

 

 

Ñc&dÐ

 

 

 



[1]       Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/20

[2]       I'tiqadaat Firaqul Muslimin wa Musyrikin, 97

[3]       Ibnu Babawaih, at-Tauhid, 57

[4]       Biharul Anwar, Al Majlisi, hal. 4/31

[5]       Ja'far an-Najafi, Kasyful Ghitha', 417

[6]       Silakan lihat kembali buku-buku Ahlus Sunnah wal Jama'ah ten-tang ru'yah, seperti kitab ar-Ru'yah karangan ad-Daruquthni, bu-ku karangan al-Lalikai dan sebagainya.

 
Retour a la page principale
قسم الأخـبـار :: الدفاع عن السنة